Jogjakarta dan sejuta pesonanya

Pulang ke kotamu...
Ada setangkup haru dalam rindu...
Masih seperti dulu...
Tiap sudut menyapaku bersahabat...
Penuh selaksa makna...
(Kla Project-Yogyakarta)

Jogja atau DIY Jogjakarta, sebuah kota yang akan selalu penuh kenangan bagi saya.
Well, kenalan dulu yah. Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah Istimewa setingkat provinsi kalau di Indonesia. Kalo ga salah sih karena peleburan kesultanan sama apa gitu (doeeng gak informatif haha). Terletak di sebelah selatan Pulau Jawa bagian tengah (kalo ini hasil googling hihi). DI Yogyakarta juga jadi tujuan inceran untuk liburan. Sayang daerah ini sempat jadi daerah yang chaos akibat gempa di 2006 lalu dan erupsi gunung merapi di medio Oktober-November 2010. Oh iya, Yogya juga pernah jadi pusat pemerintahan Indonesia loh.

Bareng Mamah

Awal kenal Jogja pertama kali sebenernya karena di ajakin Mamah jalan-jalan kesana waktu SD. Waktu itu mamah ceritanya ikutan paket jalan-jalan ke Jogja pasca lebaran. Saya cerita sedikit ya, jadi ceritanya kalo di desa saya saat menjelang puasa atau lebaran suka bikin paket-paketan gitu nanti di cicil, paket nya bisa berupa ayam 2kg, atau gula 2kg, bahkan beras dan juga paket jalan-jalan. Nah si Mamah tersayang ikutannya itu-paket jalan-jalan. Pokoknya nanti setiap paket itu bakalan di keluarin sesuai tanggal perjanjian antara si pembuat paket sama si penyicil paket. Tentu harganya bakalan lebih mahal sedikit dari kalo bayar/beli gula, beras, dll langsung. Tapi udah pada setuju kok ^_^. Oke back to the story nah jadi waktu itu saya berdua sama mamah bareng orang satu kampung pergi ke Jogja pake bus. Jadi kalo ga salah itu cuma one day tour deh. Kita gak tidur di penginapan pokoknya dari alun-alun desa berangkat sekitar jam 10 malam, nah sampe jogja pagi langsung jalan-jalan ke Pantai Parangtritis, Candi Borobudur, lalu lanjut ke Malioboro keliling-keliling plus yang pasti nyobain becak Jogja. Itu loh yang abang (eh mas yah kan jawa hehe) nya itu udah deal-deal an sama kita soal harga lalu diajak muter-muter sana sini nyambangin toko oleh-oleh yang udah deal-deal an juga (apa sih ini bahasanya gak efisien :p) sama mas becaknya. well, cerita lagi ya jadi biasanya mas-mas atau bapak-bapak becak di Jogja biasanya bakalan ngajak kita muterin daerah sekitaran malioboro setelah terjadi kesepakatan harga. Nah nanti di tengah jalan-jalannya kita, biasanya si mas becak bakalan berhentiin kita di satu tempat oleh-oleh makanan atau baju-baju gitu. Usut punya usut jadi biasanya mas becak itu sama yang punya toko udah janjian, mas becak bawa turis buat belanja di toko itu, kalo si turisnya berhasil belanja di situ nanti si mas becaknya dapet semacem kupon gitu deh buat nanti di akhir tahun atau lebaran (sesuai ketentuan yang empunya toko) buat di tuker sama sembako. Yah semacam simbiosis mutualisme lah.

Becak

Eh tapi saya punya cerita sedih deh tentang mas becak di Jogja...
Jadi pada suatu malam pada kunjungan ketiga saya di Jogja bareng temen kantor, pulang dari main di alun-alun yang ada pohon beringin yang terkenal itu loh. Nah pulangnya kan dianterin sama tukang becak. Lalu saya (waktu itu kalo gak salah sama Nunu satu becaknya, eh apa Indah ya... ah sebut saja namanya mawar yah >_<) tanya-tanya tukang becaknya soal pantai parangtritis dan mitosnya. Bapak tukang becak nya nyautin sambil cerita soal mitos-mitosnya. Terus tiba-tiba nada suara bapaknya sedih, pas nyampe depan penginapan kita nanya, "bapak kenapa kok kayaknya sedih abis cerita-cerita pantai?" lalu kata bapaknya, "Ia mbak, saya jadi teringat anak saya. Dia kebawa ombak, dan gak balik." Lalu kami merasa gak enak seketika. Dan cuma bisa tehenyak diam.

Arupadatu

Back to story with my Mom, setelah sampai di Jogja. Rombongan bus kami berhenti di toilet umum yang ada di sekitaran candi Borobudur. Sudah mandi dan rapi jali, kami menyusuri pelataran candi (zaman saya SD sih belum di wajibin pakai kain batik yang kayak sekarang-sekarang ini disediain.). Dari Kamadatu sampai Arupadatu jalan kaki. Eh dari parkiran dink :p. Oh ya FYI (biar saya juga ga lupa), jadi Candi Borobudur itu kan bertingkap-tingkap, nah dia di bagi jadi beberapa level, yang paling bawah atau kakinya disebut Kamadatu meliputi tingkat pertama sampai tingkat ketiga berdasarkan blog ini katanya ;
"Relief yang terdapat pada bagian kamadatu adalah relief Karmawibangga atau hukum karma. Relief Karmawibangga menggambarkan perbuatan manusia yang baik maupunn yang buruk dan berlakunya hukum sebab akibat (karma). Relief Karmawibangga panel 1 sampai 117 menggambarkan tingkah laku yang menyimpang (buruk). Relief Karmawibangga pada panel 118 sampai 160 menggambarkan berbagai akibat dari suatu perbuatan. Pada saat ini relief Karmawibangga tidak dapat dilihat karena tertutup oleh susunan batu. Akan tetapi, kita dapat melihat relief Karmawibangga tersebut pada bagian sudut selatan Candi Borobudur."
Nah selain Kamadatu ada juga Rupadatu, nah ini tuh jadi semacam bagian tubuh nya si Candi Borobudur meliputi tingkat keempat sampai tingkat keenam. Berdasarkan blog yang sama dikatakan ;
"Relief yang terdapat pada bagian Rupadatu disebut relief Lalitavistara. Relief Lalitavistara menggambarkan kehidupan Sang Buddha saat masih bergelimang harta. Sang Buddha mengganggap hai itu sebagai sandiwara belaka. Untuk memperoleh hidup sejati, Sang Buddha mengasingkan diri dan bertapa. Pada saat bertapa itulah, Sang Buddha mendapat wahyu tentang hidup sejati. Untuk melihat bagian ini, kita harus berkeliling lewat lorong-lorong candi. Pada bagian Rupadatu juga terdapat relief Jatakamala yang menggambarkan cerita Sang Buddha yang selalu berbuat baik selama hidupnya. Bagian Rupadatu terdiri atas lorong-lorong dengan pagar-pagar tembok dan penuh dengan hiasan serta relief-reliefyang panjangnya lebih kurang 4 km. Arca-arca Buddha pada tingkai Rupadatu terletak pada relung yang terbuka bagian depannya."

Lalu, Arupadatu disebut sebagai bagian atap candi, dari tingkat ketujuh sampai tingkat 10. Nah di Arupadatu ini sih gak ada reliefnya. Tapi coba ya nih menurut blog yang sama lagi ni ya ;
"Bagian Arupadatu terdiri atas batu-batu bundar dengan lingkaran-lingkaran stupa yang semuanya tidak dihiasi sama sekali. Pada bagian Arupadatu digambarkan manusia manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan, yaitu manusia mencapai alam nirwana. Pada bagian Arupadatu terdapat 72 stupa yang mengelilingi stupa induk. Stupa-stupa tersebut terbagi dalam tiga lingkaran. Pada lingkaran pertama terdapat 32 stupa. Pada lingkaran kedua terdapat 24 stupa. Pada lingkaran ketiga terdapat 16 buah stupa. Pada stupa-stupa tersebut terdapat lubang dan di dalamnya terdapat arca Buddha." 

Waktu itu Mamah yang denger cerita pemandu rombongan sebelah yang ada disitu denger kalo misalnya yang mengunjungi Borobudur musti napak tilas dengan cara ngelilingin arupadatu berlawanan arah jarum jam 3 kali tanpa ngomong sama orang lain. Terus katanya kalo bisa megang tangan Budha yang ada di tengah stupa dan ngucapin permintaan, permintaannya itu bisa terkabul. Gatau deh itu mitos bener atau enggak. Nah saya yang waktu itu masih kecil belum tau kalo ternyata di agama saya yang macem begitu itu tuh ternyata bisa mengandung syirik, dan mamah saya juga yang belum paham masalah begitu percaya aja lagi, jadilah ibu dan anak ini "napak tilas" dan nyoba megangin stupa -_____-"a

to be continue...

~Sepertiga rasa, tahun baru hijriyah 1436. Kamar 3106 Aston Bogor~
AAAHhhh.. Jadi kangen Mamah...










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jembatan Zaman

Things... about tonight.

After the Rain - Adhytia Sofyan