Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Jejak Kecil

http://www.hipwee.com/feature/selamat-beristirahat-angeline-semoga-kau-temukan-di-surga-apa-yang-tak-pernah-dirimu-miliki-di-dunia/ Dunia Maya beberapa hari ini geger dengan berita di atas . Ada sesuatu yang tiba-tiba menohok hati saya membaca artikel tersebut. Anak-anak adalah sosok ringkih sekaligus tangguh yang butuh di jaga karena mereka belum mengerti tentang dunia yang terkadang kejam. Yang mereka tahu adalah genggaman tangan orang tua, tatapan hangat tante dan om, tawa riang orang sekitarnya. Dunia mereka adalah meninggalkan jejak kecil di pelataran rumah bekas bermain becek-becekan. Pandangan mereka terhadap dunia adalah tawa dan canda. Saya mempunyai sepupu seumuran dengannya, rasanya... Tak tega hati ini membayangkan jika perlakuan yang sama menimpa saudara saya. Saya tak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh pelaku. Bagi saya rasanya melihat sepupu saya yang masih kecil itu saya ingin memeluknya bahkan melindunginya dari terpaan kejamnya dunia manusia-manusia de...

Wajah Telaga

Gambar
Karya : Dee Lestari Dari buku "Madre" kumpulan cerita. (2007) Ranu Kumbolo Wajah Telaga tidak pernah berdusta Ia bergetar saat udara halus menyapu mukanya Ia berteriak saat angin lincah mengajaknya menari Ia tak menghindar dari undangan alam tempatnya menghampar Menghadap awan yang menunggu sabar dini hari datang untuk keduanya bersentuhan Wajah telaga tidak pernah menyangkal Ia membeku saat langit memecah menjadi miliaran kristal putih Ia mencair saat matahari kembali di angkasa tanpa serpih Ia tak bersembunyi dari perubahan dan gejolak hati  Menanti awan yang berubah tak pasti hingga pagi datang dan keduanya berpulang pada kejujuran Izinkan wajahku bersuara apa adanya Bagai telaga yang tak menolak lumut juga lumpur Namun tetap indah dalam teguh dan ikhlasnya Kepada udara, kepada surya, kepada alam raya Menanti engkau yang melayang mencari arti hingga dini hari datang Lalu kau luruh menjadi embun yang mengecupi halus wajahku Sa...

Jembatan Zaman

Gambar
Karya : Dee Lestari (1998) Buku : Filosofi Kopi (Kumpulan Cerita dan Prosa) Bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya. Pohon besar tumbuh mendekati langit dan menjauhi tanah. Ia merasa telah melihat segala dari ketinggiannya. Namun, masih ingatkah ia dengan septak tanah mungil waku masih kerdil dulu? Masih pahamkah ia akan semesta kecil ketika semut serdadu bagaikan kereta raksasa dan setetes embun seolah bola kaca dari Surga, tatkala ia tak peduli akan pola awan di langit dan tak kenal tiang listrik. Waktu kecil dulu, kupu-kupu masih sering hinggap di pucunya. Kini, burung besar bahkan bersangkar di ketiaknya, kawanan kelelawar menggantungi kupu-kupu yang hanya menggeliat di tapaknya, karena mendengar bahasanya pun ia tak mampu lagi. Setiap jenjang memiliki dunia sendiri, yang selalu dilupakan ketika umur bertmabah tinggi. Tak bisa kembali ke kacamata yang sama, bukan berarti kita lebih mengerti dari yang semula. Rambut putih tak menjadikan kita manusia yang ...