Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2012

Surga Untuk Ayah Bunda :dikutip dari blog Abdurahman Faiz

Gambar
Dalam puisiku aku pernah menulis: Aku mencintai bunda seperti aku mencintai surga. Sebenarnya aku tak tahu seindah dan seagung apa surga itu. Tapi apa ada yang lebih indah dari surga dan cinta? Dari kitab suciku dan hadis nabi, aku tahu tak satu pun orang yang lebih tua dariku tahu  apa itu surga. Sama sepertiku, mereka yakin, itulah tempat paling indah. Paling agung. Aku selalu membayangkan tentang surga itu. Itu ada karena cinta Allah yang besar  pada hambaNya. Padahal terserah Allah kan kalau Allah tidak mau memberi kita surga. Tapi yang kutahu Allah itu tidak pernah ingkar janji sih. Aku yakin, kalau aku bisa masuk ke sana, aku bisa mendapatkan yang aku mau. Di surga mungkin aku tak perlu meminta. Kalau aku berpikir tentang pizza atau nasi kuning, maka tiba-tiba di hadapanku sudah ada deh. Sungai-sungai di surga juga banyak. Airnya bisa langsung diminum. Tinggal pilih mau minum apa: susu, soft drink atau capuccino, mocca oreo? Aku suka mocca oreo sama lemon t...

AKU_(abdurahman Faiz)

Gambar
AKU Di mana pun saja biarkan aku berkata cinta biarkan aku membaca cinta biarkan aku menulis cinta dan melangkah karena cinta setiap detik dalam hidupku cinta setiap desah nafasku cinta Pada detak sunyi dan cekaman hari pada sekujur perih dan bara api kugenggam cinta sepenuh diri Sebab aku ini puisi cinta yang menderas semakin deras berdenyut, hanyut di deru waktu dan debu-Mu

di kutip dari blog Abdurahman Faiz

Gambar
Aku lagi sedih nih karena persoalan temanku. Kutulis puisi ini untuk temanku F dan temanku yang lain, kak B, yang ayah ibunya baru saja bercerai. Semoga kalian tegar ya! Ini puisiku yang paling dewasa deh. Maaf bukan mau ikut campur...;-( DARI SEORANG ANAK, BAGI AYAH IBU YANG AKAN BERCERAI Ayah, Ibu tolong, jangan cerai sebab bercerai selalu membuat kita runtuh tak bisakah semua dibicarakan baik-baik dengan kepala sedingin batu es dan hati yang embun? Tolong, jangan bertengkar di hadapan kami apalagi saling melempar perabotan jangan menebar caci dan fitnah apalagi sampai ke koran, majalah dan televisi dan jangan jadikan rumah kita bagai zona perang Mengapa kalian saling menyakiti dan mengabaikan kami? Kami bukan lemari yang kalian pajang di rumah bisa digotong ke sana kemari kami punya kebeningan hati pendapat yang bisa dipertimbangkan kamilah penggenggam erat semua cinta yang kalian lempar sampai begitu jauh ...

di kutip dari Abdurahman Faiz's blog :)

Gambar
(buat Om Pepeng) dari tanah merendahlah setanahtanah kau hadapkan lurus wajahmu bersama ketulusan dan daya yang kau pahat dalam rongga diri syahdu kau lirihkan suara hingga kau dengar nada udara di antara jari-jari yang tengadah dan jingkat kaki musim, melintasi sabana fana lalu kau pilih ucapan paling bunga diiringi airmata rindu kupu-kupu :”Aku selalu kembali padaMu  dalam tiap hembus, dalam tiap denyut, dalam semangat yang kekal tersemat” Sayup kau pun mendengar gempita puja barisan malaikat yang tak pernah usai mengaminkan cinta para kekasih (30 Oktober 2007)

one day if i have child(s), i want my dear child(s) studied in that school ^_^

Gambar
di copas dari blog : Taman Hati Abdurahman Faiz _Sekolah Baruku Asyik !_ Sejak 25 Juli lalu, aku sudah pindah dari sekolahku yang lama ke SDIF Al Fikri, Depok. Alhamdulillah, aku duduk di kelas IV Mekkah dan sekelas dengan Caca, sepupuku yang penulis juga. Caca sih sudah lama sekolah di sana. Ada banyak hal yang membuatku senang dengan sekolah baruku ini. 1. Setiap pagi, kami disambut dengan senyum dan sapa yang riang dari semua Bapak Ibu Guru. Mereka perhatian sekali, semangat dan tak pernah ada yang cemberut. Mereka percaya semua anak cerdas. Semua anak spesial! Aku takjub lho. 2. Murid di kelasku tidak terlalu banyak, cuma 17 orang. Gurunya ada dua orang. Guruku bernama Bu Nuri dan pak Adin. Orangnya hmmm seperti guru dalam puisi-puisiku! 3. Mata pelajarannya hampi sama dengan sekolahku dulu, tapi diajarkannya dengan fun. Kadang kami terlihat main-main, tapi alhamdulillah sampai ke otak dan hati lho. 4. ...